Bukti Kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Taala
Bukti Kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 19 Rajab 1447 H / 8 Januari 2026 M.
Kajian Islam Tentang Bukti Kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Pembahasan dimulai dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Qaf ayat 15:
أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ
“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (QS. Qaf [50]: 15).
Ayat Al-Qur’an ini merupakan renungan mendalam mengenai penciptaan diri manusia dan seluruh makhluk. Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan keagungan kuasa-Nya agar hamba-hamba-Nya semakin tunduk dan taat kepada-Nya.
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan makna pertanyaan “apakah Allah lemah atau tidak mampu terhadap ciptaan yang pertama,” Jawabannya sangat jelas bahwa Allah Maha Mampu, terbukti dengan keberadaan makhluk yang telah diciptakan-Nya. Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali menetapkan adanya hari pembalasan atau hari kebangkitan.
Kaum yang mendustakan hari kebangkitan sebenarnya mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu menciptakan makhluk pada awalnya. Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuat, Maha Perkasa, lagi Maha Kokoh.
Dalam bahasa Arab, kata ayiya atau ayyu digunakan untuk menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam mengerjakan sesuatu. Sebagai contoh, sebuah syair Arab menyebutkan:
“Mereka tidak mampu menyelesaikan urusan mereka sebagaimana burung merpati yang tidak mampu meletakkan telurnya.”
Penggambaran tersebut menjelaskan bahwa burung merpati akan mencari tempat paling aman karena ia merasa tidak mampu menjaga telurnya sendirian. Makna ayiza dalam syair tersebut selaras dengan penggunaan kata dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah Al-Ahqaf:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ…
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa lelah karena menciptakannya, Kuasa memberi kehidupan kepada orang-orang mati?” (QS. Al-Ahqaf [46]: 33).
Sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma menjelaskan bahwa makna “apakah Kami lemah untuk menciptakannya.” Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Imam Muqatil Rahimahullahu Ta’ala. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala mengomentari bahwa penjelasan tersebut merupakan penafsiran berdasarkan konsekuensi dari lafaz tersebut (lazimul lafzi).
Dengan demikian, penciptaan pertama adalah bukti nyata bahwa menghidupkan kembali makhluk pada hari kebangkitan bukanlah hal yang sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keraguan manusia terhadap hari kebangkitan hanyalah bentuk kerancuan berpikir di tengah bukti kemahakuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat nyata.
Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan ketidakmampuan sering kali menggunakan kata ayiya (عَيِيَ). Seseorang yang merasa tidak mampu mengenali suatu perkara atau tidak mendapatkan petunjuk yang benar mengenai hal tersebut akan berkata, “Aku dibuat lemah (tidak mampu) untuk mengenal perkara ini.” Sebagai contoh, kalimat أَعْيَانِي دَوَاؤُكَ digunakan oleh seseorang yang tidak mampu menemukan atau mengenali obat bagi suatu penyakit.
Berdasarkan hal tersebut, sifatnya memiliki cakupan makna yang luas. Sifat ini bukan sekadar menunjukkan kelemahan fisik, melainkan juga mencakup ketidakmampuan dalam menemukan, menjangkau, atau memahami sesuatu.
Makna ini diperkuat melalui bait syair Arab mengenai burung merpati. Ketidakmampuan yang dimaksud pada burung merpati bukanlah ketidakmampuan untuk bertelur, melainkan kebingungan dalam mencari tempat yang aman. Merpati akan berputar-putar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena merasa tidak mampu memastikan di mana lokasi terbaik untuk menyimpan dan melindungi telurnya agar tidak terjangkau oleh gangguan makhluk lain atau manusia. Gambaran ini serupa dengan keadaan seseorang yang tidak mampu menyelesaikan urusannya sehingga ia kebingungan menentukan arah tujuan.
Meskipun demikian, Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala memberikan catatan penting bahwa maksud ketidakmampuan dalam ayat Al-Qur’an terkait penciptaan bukanlah bermakna letih, payah, atau capek (at-ta’ab). Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menafikan rasa payah dalam proses penciptaan alam semesta, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Qaf:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak sedikit pun dipengaruhi rasa lelah.” (QS. Qaf [50]: 38)
Dalam aqidah Ahlus Sunah wal Jamaah, ketika ada penafian seperti ini, supaya menunjukkan kesempurnaan, berarti kita harus menafikannya disertai dengan menetapkan sifat kebalikannya secara sempurna. Ketika Allah menyatakan tidak ditimpa rasa capek atau payah saat menciptakan langit dan bumi, hal tersebut merupakan penetapan bagi kesempurnaan kekuatan dan kemahakuasaan-Nya yang mutlak. Segala bentuk kekurangan dalam penciptaan telah dinafikan untuk menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55967-bukti-kemahakuasaan-allah-subhanahu-wa-taala/